line

Article

Satu Manusia Banyak Peran

Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu langsung dengan seseorang yang selama ini saya kenal sebagai pembicara mimbar. Pribadinya terlihat sangat berbeda ketika ia memerankan ibu rumah tangga di rumahnya. Sikapnya yang biasa terlukis di memori saya kali ini benar-benar lain. Ia tampil apa adanya. Sebagai ibu rumahtangga beranak dua, ia terlihat tidak malu-malu menampakkan keasliannya. Perhatian dan kasih sayang kepada anaknya ia perlihatkan tanpa dibuat-buat. Ia benar-benar menjalankan peran seorang ibu dan istri hari itu.

Pemandangan ini terus terekam dalam pikiran selama beberapa hari. Lalu muncullah kalimat ini, “Bukankah satu manusia yang sama punya peran berbeda-beda?” Mungkin waktu di kantor si A jadi bos. Tetapi begitu A pulang ke rumah, ia harus berperan sebagai anak, yang sesekali harus kena marah orangtua. Mungkin juga di tengah teman-temannya ia paling muda sehingga setiap temannya bebas memberi julukan apapun kepadanya. Atau peran lain lagi, dimana saja, di gereja, lingkungan pelayanan, atau apapun, si A yang sama harus berganti-ganti peran.

Ia tentu tidak bisa berlagak bos ketika di rumah. Sebaliknya, ia juga tidak bisa bermanja-manja di kantor karena posisinya sebagai pimpinan. Tetapi bukankah si A adalah orang yang sama? Benar! Demikian halnya dengan TUHAN. Ia punya peran banyak. Sebagai Tuhan, Raja, Bapa, Anak, Penolong, dan peran lain lagi.

Kejadian banjir yang menimpa Jakarta Februari 2007 meninggalkan trauma dan ketakutan tersendiri buat saya pribadi. Saya sempat bingung dan mengalami “pasang-surut” iman. Sampai satu ketika saya menghadiri ibadah Dewasa Muda di salah satu gereja. Setelah pujian ke-3 dinaikkan, saya meninggalkan ruang ibadah untuk ke kamar kecil. Di sinilah tiba-tiba saja terdengar pertanyaan, “Masihkah Engkau percaya kepada Tuhan?”

“Maksudnya percaya yang bagaimana?” saya balik bertanya.

“Percaya bahwa Tuhan adalah Bapa yang baik, selalu setia menjagai dan melindungi anak-anakNya?” jawab suara itu.

Saya mulai tersadar bahwa benar saya telah kehilangan rasa percaya. Sulit untuk saya mempercayai bahwa TUHAN tetap sama, sebelum dan sesudah bencana. Buat saya, pribadi Tuhan yang selama ini sangat perhatian karena Dia memang seorang Bapa sudah berubah setelah kejadian menakutkan itu.

Saya lalu teringat pembicara mimbar yang juga ibu rumahtangga tadi. Ia orang yang sama, hanya saja punya peran berbeda-beda. Saya memiliki ayah yang mengasihi semua anaknya tanpa membeda-bedakan. Tetapi ketika ia harus marah, saya yang biasa bergurau tanpa ada batasan harus menjadi gentar saat berhadapan dengannya.

Saya pun mendapat pengertian begini, Tuhan adalah pribadi yang sama. Ia tetap sama, dulu, sekarang dan selamanya. Kalau Jakarta terkena bencana dan saya yakin itu seijin Tuhan, namun bencana buruk itu tidak mengubah pribadi Tuhan. Ia tetap seorang Bapa yang baik, yang setia, memperhatikan dan memelihara anak-anakNya. Waktu bencana terjadi IA hanya sedang berperan sebagai Tuhan dan Raja yang punya otoritas penuh atas seluruh alam semesta. Tetapi bukankah DIA pribadi yang sama yang selama ini saya kenal sebagai seorang BAPA? Jawabannya adalah 'YA'!

“Percayalah AKU tetap sama, dulu, sekarang sampai selamanya,” kata Tuhan. Dan saya pun mendapat pengertian baru. Saya kembali mempercayai DIA, tanpa peduli apapun yang terjadi, sampai kapanpun.

Seperti sepenggal kalimat di lagu ini, “Aku tetap sama, dulu, skarang sampai slamanya..... Penyelamatmu...” (diambil dari album 31:31-Sari Simorangkir).

 

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form