line

Article

Perjalanan Hidup

Pada awalnya, aku berpikiran bahwa Tuhan adalah Tuhan. Seseorang yang di atas sana, melihat ke bumi, mencatat kesalahan-kesalahan orang (terutama kesalahanku) untuk kemudian memutuskan apakah kelak waktu aku mati nanti, aku akan ke surga atau ke neraka. Aku berpikir dia seperti seorang Boss besar atau Presiden di atas sana. Aku dapat melihat and mengenali gambarNya di poster-poster, tapi apakah aku mengenal Dia secara betul? Aku rasa tidak.

Ketika aku mulai mengenal Tuhan, aku mulai membayangkan hidup ini seperti mengendarai sepeda. Susah tapi bisa aku lakukan. Dan aku bisa membayangkan bahwa aku tidak mengendarai sepeda biasa melainkan sepeda tandem. Aku mulai belajar menyadari bahwa Tuhan ada di belakang sadel membantu ku untuk mengayuh sepeda ini. Aku tidak tahu kapan, tetapi ada ketika, Ia menyuruh ku untuk bertukaran tempat. Yang aku tahu jelas, hidup ku tidak pernah sama seperti yang dulu lagi.

Ketika aku berada di depan, aku mengenali jalan-jalannya. Sedikit membosankan, tetapi aku tahu apa yang akan terjadi, mana jarak terdekat dari sini ke sana. Tetapi ketika Ia yang mengambil alih perjalanan, Dia mengambil perjalanan yang panjang tapi unik. Naik gunung, turun gunung, melewati lembah, melewati jalan berbatu-batu dan ini semua Ia lakukan dengan kecepatan yang cukup membuat jantungku berdebar kencang. Aku belajar pada saat seperti itu, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah berpegangan erat.

Ada kalanya, perjalanan ini benar-benar berat, membuat ku putus asa dan berpikir "Wah gila. Aku tidak mungkin melakukannya". Dan aku berhenti mengayuh. Dia berkata?Kayuh!".

Aku benar-benar khawatir. Dengan penuh ketakutan aku bertanya "Kemana Engkau akan membawa ku pergi?" Dia hanya tertawa dan tidak menjawab pertanyaanku. Di saat seperti ini lah aku belajar untuk percaya kepadaNya. Aku lupa akan kehidupan lama ku yang membosankan, dan memasuki kehidupan yang penuh dengan petualangan. Dan ketika aku berkata "Aku takut", Dia menoleh kepadaku dan menyentuh tanganku dengan lembut. Aku memperoleh kasih, damai sejahteran dan perasaan bahwa aku di terima. Aku merasakan kegembiraan dan sukacita. Semuanya ini adalah hadiah yang aku peroleh ketika aku berjalan bersama Tuhan. Dan kita terus berjalan.

Pada suatu ketika, Dia berkata "Berikan hadiah ini kepada orang lain. Hadiah-hadiah ini adalah bagasi ekstra yang cukup berat". Aku pun melakukannya. Aku memberikan kasih, damai sejahtera, sukacita kepada orang lain. Yang indah mengenai perihal "memberi" ini, ketika aku memberi, aku juga mendapatkannya kembali. Yang berbeda adalah, ketika aku menerima kembali, beban ini tidak berat. Rasanya sangat ringan.

Lalu ada suatu kala, aku capai dan tidak mempercayainya lagi. Aku ingin mengontrol kembali kehidupan ku. Aku pikir Dia akan marah kepadaku. Tetapi Dia tahu rahasia bersepeda. Tahu bagaimana cara untuk berbelok di tikungan-tikungan tajam, tahu jelas bagaimana cara meloncati jalan yang berbatu-batu, tahu bagaimana untuk terbang dan mendapatkan jalan pintas, bahkan tahu cara melewati jalan yang cukup menakutkan. Kembali aku belajar untuk tutup mulut dan mengayuh di jalan-jalan yang paling aneh sekalipun. Aku juga belajar untuk menikmati pemandangan dan angin sejuk yang berhembus di wajah ku ketika bersepeda bersama Tuhan.

Dan ketika aku tahu bahwa aku menyerah, capai dan tidak mau melakukannya lagi, Dia tersenyum dan berkata lembut "Kayuh!"

 

info Terbaru

Banyak Diakses

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form