line

Article

Kemegahan di dalam Kristus

Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! -Roma 3:27- 

Roh Kudus adalah Pribadi yang dinamis. Dia akan memberikan kepada kita hikmat-hikmat yang tersembunyi, rahasia-rahasia kebenaran yang berasal dari Bapa, sehingga iman kita bertumbuh semakin maju. Seperti halnya hari ini, Roh Kudus memberikan suatu pernyataan mengenai perbedaan antara kemegahan hidup lama dan hidup baru. Kemegahan hidup lama adalah kemegahan di luar Kristus; kemegahan hidup baru adalah kemegahan di dalam Kristus. 

Contoh nyata dari pribadi yang memahami perbedaan kemegahan tersebut adalah Rasul Paulus. Paulus (Saulus) adalah orang yang memiliki status istimewa di mata orang Yahudi. Dia orang Ibrani asli, keturunan langsung bangsa pilihan Allah yang melahirkan Kristus. Dia juga seorang Rabi, guru besar dalam lembaga pendidikan tinggi yang mempelajari Hukum Taurat. Tidak hanya pandai dalam mengajar, Paulus juga seorang Farisi, orang yang dengan teliti belajar dan sungguh-sungguh melakukan segala ketetapan Hukum Taurat. Farisi adalah kelompok masyarakat elite dalam strata masyarakat Yahudi. Jumlahnya tidak mungkin lebih dari 6000 orang. Pada jaman tersebut, orang Farisi memisahkan diri dengan kelompok masyarakat lainnya yang tidak melakukan Taurat. Bagi mereka sikap tersebut adalah suatu kebanggaan karena merupakan wujud kesetiaan terhadap Allah. 

Yang membuat dia semakin istimewa yaitu status kewarganegaraannya sebagai warganegara Roma (Kisah 22:27). Pada saat itu kerajaan Romawi mendominasi dunia. Setiap warganegara Roma memiliki status istimewa di mata hukum. Dia tidak boleh dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Juga tidak boleh disesah alias dihukum cambuk (Kisah 22:25). Jika diadili dan dijatuhi hukuman, seorang warganegara Roma bisa naik banding langsung kepada Kaisar (Kisah 25:11). 

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Fil 3:5-6), Paulus mengakui hal-hal di atas sebagai kebanggaannya sebelum mengenal Kristus. Dikatakan: "...disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat." Karena statusnya ini, tak heran jika Paulus mendapatkan mandat dari Sanhedrin (Mahkamah Tertinggi Yahudi) untuk membinasakan pengikut Kristus di Damsyik. 

Namum di ayat-ayat selanjutnya Paulus mengatakan bahwa kebanggaannya karena hal-hal tersebut adalah kerugian karena pengenalan akan Kristus. Rugi karena Paulus menemukan sesuatu yang lebih bernilai, lebih mulia, yaitu Kristus. Paulus tidak mau kemegahan dirinya dibangun di atas dasar statusnya tersebut. Dia melepaskan semuanya dan menanggapnya sampah (sesuatu yang tidak berguna) supaya memperoleh pembaharuan hidup di dalam Kristus. Hal ini ditegaskannya kembali dalam suratnya kepada jemaat di Korintus: "Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti (2 Kor 3:10)." 

Sebagai bukti bahwa dia telah mengenal Kristus adalah di ayat 20. Paulus menyatakan bahwa kewargaan dirinya sekarang adalah di dalam sorga. Dia tidak lagi bangga sebagai warganegara Roma yang memberikan perlindungan bagi nyawanya. Paulus menjadi sangat berani menghadapi segala resiko dalam memberitakan Injil (2 Kor 11:17-33; Roma 8:36). Makna keuntungan bagi dia bukan lagi pada hal-hal lahiriah, tapi jika serupa dengan Kristus dalam kematianNya. Bagi dia, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan (Filipi 1:21).

 

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form