line

Article

Andalkan Tuhan Saja

Malam itu saya menginap di rumah seorang teman setelah mengikuti ibadah tengah minggu yang selesai cukup larut. Setelah seperti biasa kami saling berbagi perasaan dan pengalaman serta perjalanan iman kami dalam keseharian, maka kami pun tertidur.

Sebelumnya, hari itu Tuhan seperti mengajar saya untuk tidak mengandalkan manusia, karena pasti kecewa. Berawal dari pertemuan saya dengan seseorang yang telah saya bangga-banggakan karena saya melihatnya sebagai pribadi baik hati walaupun hanya sekali pertemuan. Dan ini adalah pertemuan kedua.

Tetapi sore itu entah mengapa dan apa yang sedang ia pikirkan, saya melihatnya tidak seperti biasa. Orang yang saya pikir akan menjadi sangat ramah dan senang untuk bertemu kedua kali dengan saya, kali itu seperti datar saja. Padahal sudah terbayang bahwa ia pasti akan menyapa saya dengan sangat ramah, dan imajinasi indah yang lain. Rupanya semua tidak terjadi. Hari itu ia terlihat agak tegang dan kaku. Ia tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang “formal” dan tidak seakrab waktu saya bertemu terakhir.

Puji Tuhan, saya bisa mengendalikan diri kali ini karena “ditemani” dengan kalimat Firman Tuhan yang tadi itu, “Jangan mengandalkan manusia, engkau pasti kecewa”. Sehingga benar, saya tidak terlalu kecewa dan bahkan mencoba memahami apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Lalu terus mengolahnya dan meyakinkan diri bahwa hal itu wajar. “Itu sebabnya, jangan mengandalkan manusia!” begitu nasehat yang terus ada dalam hati. Malam itu saya tiba di rumah teman dengan perasaan agak bingung masih memikirkan mengapa kejadiannya tidak seperti yang saya harapkan. Ia tidak seramah yang saya kira kali itu.

Tengah malam entah jam berapa, tiba-tiba saya terjaga dari tidur. Dan entah mimpi atau tidak, bahkan nyaris nyata, TUHAN mengajak saya berbicara. KataNya, “Bagaimana jika orang yang engkau cintai, kasihi dan kepadanya engkau menaruh pengharapan setinggi langit Aku ambil?” Mendengar itu spontan saya kaget. Dan langsung membalasNya dengan permohonan (memohon-mohon belas kasihanNya), “Jangan Tuhan. Jangan.... Jangan Engkau ambil dia.” Saya lalu spontan berjanji untuk tidak lagi menaruh pengharapan saya kepadanya. Setelah itu saya baru tersadar. Saya benar-benar sadar bahwa kejadian tadi sungguh-sungguh nyata.

Beberapa waktu lalu saya sering berdoa begini, “Tuhan, berbicaralah kepadaku, aku siap mendengar.” Doa ini diajarkan seorang hamba Tuhan ketika ia berkotbah di hari Minggu. Supaya jangan kita melulu yang bicara, tapi harus memberi giliran kepada Tuhan untuk mengatakan sesuatu kepada kita. Begitu katanya. Dan kemungkinan besar, inilah yang sedang terjadi malam itu. TUHAN sedang berbicara kepada saya!

Saya sempat terkagum setelah peristiwa itu, karena membuat saya mengerti seperti apa ketika TUHAN berbicara. Saya mendapat gambaran jelas bahwa TUHAN pun bisa berbicara selayaknya saya berbincang dengan teman. Benar-benar ajaib! Belum pernah saya mengalami hal ini sebelumnya.

Satu hal penting TUHAN ingatkan kepada saya adalah ini, JANGAN mengandalkan manusia! Atau apapun yang kelihatan, karena semua hanya sementara! Seringkali ketika kita merasa menemukan tambatan hati, seluruh emosi, perasaan, pengharapan, angan-angan akan masa depan, kita curahkan dan gantungkan kepada orang tersebut entah sadar atau tidak. Dan hanya TUHAN yang tahu!

Rupanya malam itu saya dibuat sadar oleh TUHAN bahwa saya telah berjalan menuju bahaya besar. Bisa dibayangkan ketika saya lebih memilih bergantung pada sebuah dahan kering yang sewaktu-waktu bisa patah dan membuat saya terjatuh ke jurang dibanding bergantung pada sebatang besi yang lebih kokoh. Dengan keputusan manusia, tentu saja saya pasti memilih yang salah. Ini bahaya besar!

Satu hal juga yang tidak kalah penting, saya jadi mengerti bahwa TUHAN haruslah ada di tempat pertama. Prioritas utama. Dan bukan yang kedua!

Ketika saya memohon-mohon belas kasihanNya untuk tidak menyingkirkan orang tersebut dan berjanji tidak akan menempatkannya di posisi paling tinggi menggeser kedudukan TUHAN dalam hidup saya, IA pun menyetujui kesepakatan tersebut. Saya tenang kembali. Walau masih tertegun dan berpikir rupanya TUHAN bisa sedekat ini dengan manusia.

Jadi 3 hal saya dapatkan:

1. TUHAN adalah pribadi yang nyata. IA akan berbicara seakrab sahabat saya berbicara kepada saya. Percakapan yang mendalam selayaknya dua pribadi yang selalu berbagi suka dan duka, mampu IA lakukan dengan kita, asalkan kita mengijinkanNya.

2. Andalkanlah hanya TUHAN! Dalam segala sesuatu, serahkan dan kembalikan itu kepadaNya. Jangan memegang terlalu erat seolah kita tahu atau mampu mengendalikan apa yang akan terjadi di hari ke depan. Semua sia-sia. Dalam sekejap hari ini ada, besok sudah lenyap. TUHAN sanggup membuat ada. IA juga mampu mengambil kembali dalam hitungan detik. Bahaya terbesar adalah ketika kita menggantungkan harapan kepada apa yang terlihat, dan ketika pengharapan sudah semakin besar, ternyata kenyataan berbicara lain, kita akan berubah menjadi pribadi sangat rapuh. Ini sangat berbahaya!

3. Tuhan adalah ALLAH yang cemburu. IA harus ada di tempat pertama dalam segala aspek hidup kita. Entah dalam studi, pekerjaan, pelayanan, hubungan sesama, dan lain-lain. Ketika kita menggeser posisiNya dari tempat paling utama, bukan tidak mungkin IA akan mengambil kembali posisi tersebut sesuai caraNya tanpa persetujuan kita. (beruntunglah saya, IA memberitahu niatNya ini kepada saya tengah malam itu......).

Ingatlah Firman Tuhan dalam 2 Korintus 4:18, berikut isinya: “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”

Jadi jangan lagi melakukan kesalahan yang pernah saya lakukan!

 

mengenai AirHidup

Menyediakan kebutuhan rohani dengan menggunakan sarana internet. Tujuan kami tidak lain adalah mendukung anak-anak Tuhan dimanapun mereka berada dalam pengenalan akan DIA.

Anda dapat menghubungi kami melalui link dibawah ini.

kontak form